Mau Dibawa Kemana??

Image

Cuplikan chatting saya dengan seorang bule. Dan itulah percakapan singkat kami hari itu. Saya kenal beliau lewat situs jejaring sosial stranger. Saya memang sengaja mencari teman dari luar negeri berhubung bahasa inggris saya yang sangat tak berkembang selama kuliah ini. Tertarik berkenalan dengan nya dan akhirnya tau bahwa dia adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam di England. Saya yang Ya akhirnya kami pun banyak cerita tentang banyak hal. Ya topik kedokteran adalah langganan kami berhubung itu adalah topik yang kami nyambung. Tak bisa dipungkiri, pola pikir dan topik kesukaan western dan eastern sangatlah bertolak belakang. Dan kami sepakat mencari titik temu topik. Medical topic.

Baiklah.

Setelah membaca chat dari si kawan, jadilah saya melongo. Tak menyangka ternyata ada orang di belahan dunia sana yang berpikir seperti itu tentang kehidupan. Dan dia bukannya tak cerdas. Cerdas. Seorang dokter. Dokter spesialis. Bekerja sebagai dosen di universitas ternama di negara itu. Menjadi presentator di berbagai seminar kedokteran di negaranya. Dan..itulah pandangannya tentang kehidupan. Baginya kehidupan adalah menjadi seorang yang dokter yang hebat. lalu punya banyak uang, menggunakan uang tesebut untuk menolong orang lain, lalu mati. Setelah itu? Ya, mati. Selesai? Ya. Singkat? Ya.

Sepertinya itulah perbedaan mendasar kita dengan mereka. Perbedaan yang sudah seharusnya. Cara pandang kita tentang kehidupan. Bagi kita tentulah tidak sesingkat itu. Hidup adalah proses panjang dengan tujuan panjang melewati dimensi waktu dan tempat. Atas seluruh prosesnya kita harus pikirkan hari ini, esok, sembari belajar dari kemaren. Atas seluruh lika likunya kita harus selaraskan tempat hari ini dan esok, dunia dan akhirat. The day today and the day after.

Hidup, atasnya ada takdir yang telah Allah gariskan dan tetap saja Allah berikan kemampuan dan kesempatan untuk menentukan arah hidup. Maka, semuanya terserah kita. Mau menjadi seperti apa. Apakah menjadi dokter di Papua sana berkawan dengan hutan rimba atau kah  menjadi dokter di kota besar, bekerja di rumah sakit terkenal. Ya, semua keputusan ada di tangan kita. Mau menjadi freelancer atau menjadi anak buah di perusahaan. Mau lanjut S2 atau S3. Mau tinggal di rantau orang atau di kampung sendiri. Ya, terserah, boleh-boleh saja. Sile mau dibawa kemana. Bebas. Namun, kitorang jangan lupa tujuan hidup semule. Yuk, bukak lagi Adzzariat ayat 56.

Maka, menentukan tujuan hidup adalah keniscayaan dalam hidup. Bukankah hidup adalah perjalanan dan setiap perjalanan mesti ada tujuan biar terarah. Maka bebas saja mau lewat jalan mana (asal jangan jurang), terserah mau berjalan dengan siapa saja (asal jangan dengan yang berkaki empat, hehe), terserah mau jalan dengan kecepatan berapa ( asal jangan kayak siput) , yang penting kita telah sedang menuju tujuan hidup kita. Maka mau dibawa kemana hidup ini? Yak, ke titik final tujuan hidup kita.🙂

Inilah hidup. Ketika pilihan ada ditangan kita. Ketika kesempatan ada di depan mata kita. Ketika pertanggungjawaban menunggu kita. Lets be wise!!!

 

*Wah, mohon maaf yang sangat kepada saudari biduk kata. Afwan, tugas dari saudari fitrah saya dahulukan. Pahamlah mak cik, ide itu kadang lalu lalang, ditangkaplah yang paling dekat dan paling cepat datang.🙂. Insya Allah catatatan berikutnya menyusul. Segera.

 

Salam blogger jamaah

June, Midnight Friday, 2012

2 thoughts on “Mau Dibawa Kemana??

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s