Home (2)

Tentang rumah itu.
Pertama kali melihatnya, menyadari keberadaannya sekitar 5 tahun yang lalu

Lima tahun yang lalu.
Masih baru. Cat putihnya masih bersih cerah. Loteng nya masih mengkilap terlihat swkaki furnish nya yang baru. Perabotnya memang masih kosong tapi space rumah terlihat sangat viable untuk diisi. Halaman luasnya bersih dengan rumput jepang menutupi tanah pekarangannya. Pagar tinggi nya pun masih kokoh mengkilap. Baru dicat kala itu.

Rumah itu mungkin dengan berat hati hini telah dikontrakkan. Ditawar orang karena kondisinya yang bagus. Pemilik rumah mungkin tertarik. Akhirnya begitulah. Dikontrakkan.

Empat tahun kemudian. Dinding – dindingnya sudah tak secerah dulu catnya. Jaring-jaring laba-laba awit-awitan di sudut loteng. Perabotnya pun sudah tak layak pakai lagi. Tak terawat.
Beralih ke halamannya. Rumput-rumput sudah tinggi tak dipangkas. Daun-daun yang jatuh berserakan saja menutupi rumput jepang, tak pernah disapu sepertinya.

Sepertinya itulah nasib rumah yang dikontrakkan. Seringnya tak terawat. Si penghuni sementara sering kali tak peduli. Ya. pun mungkin karena rasa memiliki yang kurang terhadap rumah kontrakkan. Bukan permanen punyaku. Begitu mungkin. Si empunya pun susah nak buat perbaikan. Jelas saja, status nya dikontrakkan. Masih diisi orang.

Satu tahun yang lalu tepat 5 tahun setelah pertama kali kulihat rumah itu. Aku mengamati rumah itu lagi. Sepertinya ada pindahan. Setelah ku tanya ternyata memang rumah itu mau dikosongkan.
Rumah itu kelihatannya dalam waktu dekat akan kedatangan pemilik baru. Penghuni tetap. Kabarnya mau dijual. Jelaslah kenapa hari ini rumah itu dikosongkan. Penghuni lama diminta untuk pindah. Sepertinya si pemilik rumah juga dengan berat hati meminta untuk pindah. Ya namanya saja sumber penghasilan. Tapi mungkin ada hal lain yang dipertimbangkan si pemilik rumah. Mengontrakkan rumah jelas berbeda dengan menghuni rumah atau menjualnya. Semuanya masalah penjagaan. Kepemilikan. Perbaikan. Keuntungan.

Dua hari yang lalu, rumah itu terlihat indah sekali. Renovasi disana sini ternyata membuatnya menjadi megah. Bangunannya ditambah 1 tingkat lagi. Dengan balkon pada depan dan belakang rumah. Ke depan menghadap langsung ke dekat jalan. Bagian belakang mnghadap kolam ikan yang baru juga dibangun sepertinya. Cat ulang warna kuning gading membuat pandangan mata lebih nyaman. Halaman yang ditanami berbagai macam bunga juga menambah kesan asri pada rumah ini. Pohon mangga di depannya juga dipotong bagian atasnya biar tidak tumbuh terlalu tinggi.
After all..awesome. Mungkin deskripsiku kurang menjelaskan.
Di depan rumah nya kulihat tulisan DIJUAL. Patutlah.

Renovasi. Owh pantaslah, untuk menjual dengan harga yang tinggi haruslah dibarengi dengan kualitas yang tinggi pula. Pantaslah si pemilik melakukan renovasi besar-besaran. Dan renovasi tidaklah mungkin dilakukan selagi rumah diisi orang, selagi dikontrakkan.

Pagi ini, aku lewat lagi di depan rumah itu. Sudah ada mobil yang parkir di garasinya. Papan bertuliskan DIJUAL pun sudah tak ada lagi. Sudah terjual pastinya. Padahal baru 2 hari. Pun kabarnya dijual dengan harga tinggi. Pantaslah.

*Cerita fiksi tentang “rumah kontrakan” dan “rumah tetap”

*Tentu saja bukan hanya sekedar tentang rumah..

Inspired by my discussion with my senior a year ago

Medan, in the edge of missing heart of Ramadhan

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s