BidukKata

Semakin tersimpulkan di pikiran kita bahwa hakikat menghafal al quran adalah amal ruhani, amal ta’abuddi.

Modal utama menghafal adalah maknawiyah dan ruhaniyah, jadi barangsiapa ruhaniyahnya seimbang dg kesucian Al-Quran itu sendiri, maka dia lah yang akan mampu istiqomah bersama al quran selama hidupnya.

Berbagai metode menghafal Al-Qur’an yang ada hanyalah daya dukung. Ia tak akan berguna saat modal maknawiyah tak kuat. Jadi menghandalkan metode saja dalam menghafal adalah pemahaman yg keliru.

Adapun hifzhul-qur’an itu sendiri harus sejajar dengan agenda hidup kita, sholat kita, tiada yang memisahkan selain al-maut.

Hanya dengan jiwa yang kuat (nafsan qowiyyah), kita mampu menghadapi al-qur’an yang qaulan syaqila (perkataan yg berat).

Hifzhul-qur’an juga harus diimbangi dengan membaca, mempelajari, agar ketika membaca tiap ayat-ayat al-qur’an, kita mampu bersenyawa dengan ayat tsb, mampu memahaminya.

Hifzhul-qur’an pun  membutuhkan modal2 penyeimbang jiwa, yaitu tilawatil qur’an, istighfar, dan dzikr yang banyak.

Para salafush saleh penghafal qur’an pernah berkata,
“Saat…

View original post 78 more words

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s