KIta bukan Kanibal, kan?!

Bismillah, lama tak menulis, malam ini nak mencoba tuk tuangkan sedikit resume lingkaran beberapa hari yang lalu,

***

Hmm, masih ingat tak tentang pelajaran biologi SMP tetang macam-macam makhluk hidup berdasarkan makanannya?

Yups, benar. Ada yang disebut herbivora, karnivora dan juga omnivora. Dan saya yakin dan percaya, semua udah pada tau tu perbedaan masing-masingnya. Herbivora tu kayak sapi, suka makan tumbuhan-tumbuhan. Kalau singa, harimau, serigala disebut karnivora, pemakan hewan. Nah Omnivora itu ya contoh paling nyatanya manusia, pemakan segala.

Ups, sejatinya bukan pemakan segala ya. Fitrahnya kita suka daging tapi bukan daging sesama kita, daging manusia (terkecuali daging2 haram lainnya tentunya). tentunya kita tak pernah bayangkan kita makan daging manusia lainnya kan? Karena itu adalah sebuah keabnormalan ketika ada manusia yang makan daging manusia. Apalah lagi jika daging manusia itu adalah daging busuknya. Betapa tidak waras.

Adakah yang begitu? (selain Suma*to tentunya). Ada. Banyak.

Benarkah? Ya. mereka adalah orang-orang yang menggunjingkan saudaranya. Yaitu menceritakan aib-aib nya yang bila ia ketahui maka ia tak akan suka. Itulah dia Ghibah.

Dalam hadist riwayat Muslim Rasulullah SAW pernah bersabda:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya: “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.’ (MUSLIM – 4690)

Dan dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman:

… dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS 49 :12)

Dalam ayat di atas Allah menganalogikan orang yang menggunjingkan saudaranya dengan memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati. Karena sesungguhnya kehoramatan diri seorang manusia dimisalkan dengan dagingnya. Maka menceritakan aibnya sama halnya dengan menodai kehormatannya. Maha suci Allah dengan segala pemisalannya.

Ghibah / gunjing mungkin tanpa terasa sudah menjadi tradisi kita. “palamak carito”, kata urang awak, Apalagi yang bergender wanita, uhh, tak sah rasanya kalau tak jumpa tak bekombur dulu agak sejenak, Media juga seolah melazimkan hal yang satu ini. tu liat aja segudang acara TV yang berbau-bau “kanibal”.

Kenapa  berghibah?. Nah, ada yang berdalih bergunjing karena ikut-ikutan gank atw kelompoknya, “ntar kalau gak ikut, dianggap tak nyambung”. Ada lagi yang memang ingin melampiaskan kemarahan kepada si objek, berharap dengan menceritakan aib-aib si objek kepada yang lain kemarahan itu akan mereda. Hehe,,mencoba memadamkan api dengan bensin sepertinya. Sebagian lainnya beralasan memang ingin meninggikan diri sembari merendahkan si objek dengan aib-aibnya. Nah yang ini memilih untuk memadamkan lampu orang lain ketimbang memperbesar nyala lampu sendiri.

Efek ghibah?Berdosa, absolutely!! Selain itu? Banyak. Merusak ukhuwah. Tidak ada yang suka di-ghibahi- percayalah, kecuali orang yang mencari uang dengan aibnya #ehh. Maka ghibah akan mendatangkan perpecahan. Bertahun-tahun kita menjalin persahabatan dan persaudaraan maka bisa saja putus di tengah jalan hanya karena kita doyan makan daging saudara. Selain itu Ghibah akan merusak hati,  bagai toksin ghibah akan meracuni hati. Tak akan tenang hati para penggibah, paling kurang rasa bersalah atau takut ketauan orang yang dighibahi.

Ketika hari ini tersadarkan akan kebodohan diri memakan daging saudara maka yuk mari berbenah diri. Bukankan Allah tutup dengan indah ayat diatas dengan kalimah ”  Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang “. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat kepada Allah, karena Allah, Rabb Maha penerima taubat yang Maha Penyayang. Dan atas hak saudara yang telah kita “kanibali” maka minta maaflah, perbaiki nama baiknya jika terlanjur tercoreng, sebut-sebutlah kebaikannya agar menjadi penenang dirinya dan para sesiapa yang telah mendengar ghibah tentangnya. And the last, Stop canibalism!!

***

The Beginning of  December, when rain still fall, Hopefully Barokah.

#Ntms

2 thoughts on “KIta bukan Kanibal, kan?!

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s