-Sabtu Ini- (1)

Sabtu ini tak seperti sabtu-sabtu yang lalu. Dunia perco-ass an yang lalu-lalu seolah menyediakan waktu kelonggaran saraf-saraf di hari sabtu. Namun tidak kali ini terkhusus untukku.  Masalah post test yang menjadi bahasan teranyar kami di minggu terakhir tiap stase biasanya dihebohkan.di hari-hari pertama, jumat sabtu biasanya sudah ujian, free dan plong rasanya. Namun Sabtu kali ini, aku masih saja menanggung beban ini. Ya sejak.hari minggu di minggu lalu aku sudah berkutat dengan bab 8 Kaplan dan setumpuk status pasien yang terangkum dijurnal kami. Bayangkan kami harus hafal satu-satu nama pasien kami berikut dengan segala keluhan nya. Tak hanya itu makalah kami pun harus dikuasai dengan sedetail-detailnya, karena konon kabarnya penguji stase jiwa ini suka yang detail-detail. Maka sedari pagi Sabtu ini aku sudah ready duduk dengan tidak manisnya di bangku RSJD. Ujian ku yang terjadwal hari Rabu undur punya undur hingga sampailah dihari Sabtu. Jadilah aku keberatan kepala (ceilee) berisi teori-teori dan hafalan mati status pasien-pasienku.

” Efit, gimana persiapannya” satu-satunya teman sepenanggungan (yang masih belum ujian-red) bertanya kepadaku dengan wajah harap-harap cemas.
” Alhamdulillah masih sama seperti hari yang lalu-lalu” jawabku sekenanya. Jawaban jujur memang, aku tidak begitu tertarik menambah hafalan dalam bidang yang satu ini. Tau kenapa, kami.dituntut hafal mati titik koma untuk.ujian, konon kabarnya. Dasar aku.yang memgandalkan bahasa sendiri.jadi.kesusahan, dan akhirnya aku memutuskan mencari.pemahaman saja. Ah sudahlah.pikirku.

***
Morning report kali ini terasa sangat cepat, tiba-tiba saja keluarlah penguji ku. Singkat cerita setelah tanda tangan ini itu.beliau menatap kami yang sengaja berdiri.mendekat ke arah meja beliau.
” Ada yang ujian sama saya?”
“Ada dok” berempat kami menjawab koor. Selain aku dan teman sepenanggunganku ada 2 orang lagi teman dari kampus yang berbeda.
“Oke, silakan bawa pasien kalian kesini”
“Baik, dok” lagi-lagi koor jawaban.kami.

Sedikit tergesa kami bergerak.menuju bangsal pasien. Setelah permisi dengan perawat ruangan akhirnya kami bisa membawa keluar pasien kami untuk ujian.
Dalam perjalanan ke ruang ujian, pasienku berkata
” Dokter ntar makan ifumie ya, dokter”
“Iya, apa aja boleh” angguk ku sambil tersenyum. Umur pasienku 40 tahun, tapi lihatlah ekspresi muka dan intonasinya mengingatkanku pada sepupuku yang masih kelas 4 SD, sakit jiwa membuatnya terlihat selemah itu. Kasihan pikirku.

***
Sesampai diruang ujian sedikit canggung aku mempersilahkan pasienku untuk duduk didepan dokter penguji.
Dan ujian dimulai. Lembar per lembar jurnal yang berisi 10 status di koreksi, luar biasa dokter yang satu ini. Beliau benar-benar mengecek bagian2 yang penting dan mempertanyakannya satu persatu. Alhamdulillah jurnal aman, semua bisa terjawab meski terkadang ada blocking juga.

Tibalah giliran status pasien ujian dan pasiennya. Salah satu kelebihan dokter yang satu ini ya itu, setiap peserta ujian kudu bawa tuh yang namanya pasien masing2. Dasar kami yang pengen cari aman akhirnya semua memilih kasus schizoprenia yang lebih dikenal dengan sakit g*la. Kenapa kami suka itu, ya karena kriteria ny jelas, gampang juga nyari pasiennya di rumah sakit jiwa itu. Kelemahannya ya itu, namanya juga pasiennya udah lemah saraf, jadi bisa aja tuh jawaban pas kita tanya-tanya 2 hari yang lalu sudah beda lagi dengan jawaban hari ini. Dan itulah yang terjadi padaku. Pasien nya ternyata mengeluhkan hal yang lain dan.bercerita perihal yang berbeda. Entahlah mungkin memang aku ini yang kurang anamnesanya. Kehidupan sosial si pasien ternyata pernah membaik sejak sakit. Dan itu tidak mungkin terjadi pada pasien g*la manapun didunia. Dan aku miss anamnesa di bagian ini. Jadilah dokter pengujiku melirikku dengan senyum khasnya.
” Schizoprenia nya pasienmu.ini?”
Aku membalas dengan tersenyum miris, diam saja, maunya menggeleng tapi tak sampai hati juga meruntuhkan diagnosa awal yang telah kubuat.
Agak kesal juga pada pasien ku ini. Digelapkan pasien bahh.

“Apa lah Diagnosa banding mu yang paling tepat?” beliau bertanya lagi.
Berbekal teori-teori kaplan yang sebagian udah di.kepala aku menjawab, sedikit ragu sebenarnya.
” Bipolar tipe Manik dengan Psikosis, dok”
” Yak, benar, apalagi?”
“Hmm, Skizoafektif,dok” masih ragu-ragu.
“Yak itu dia” dokter itu mengangguk.

Seketika itu aku merasa kalah, diagnosa yang kutulis di status salahlah sudah apalagi diagnosa banding dan terapinya.

Kubesar-besarkan hati dengan menghitung-hitung jawaban yang kujawab benar, sepertinya lumayan banyak. Ah tapi, diagnosa itu keypoint nya ujian, seberapa bagus pun yang lain kalau intinya salah y percuma. Akhirnya kubesarkan hati dengan berpikir ah sudahlah sejauh ini sudah berusaha dengan maksimal, kalaupun gagal ya.tinggal ngulang, berarti diberi.kesempatan belajar jiwa 2 kali. Okelah tak masalah, dunia belum berakhir.
Kutegakkan kembali wajahku yang tertunduk lesu tadi. Kucondongkan lagi badanku ke depan. Masih ada sesi berikutnya.

Dan, ujian dilanjutkan dengan sesi makalah.
Makalah yang kukerjakan 1 minggu yang lalu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya alhamdulillah dapat di jawab dengan baik. Sesekali dokter itu melemparkan pertanyaan diluar makalah, dan beberapa di antaranya aku bisa jawab. Dan sampailah pada pertanyaan terakhir.
“Coba terangkan kriteria bipolar kalau kamu bisa jawab saya kasih.nilai delapan, kalau tidak ya cuma bisa kasih delapan kebawah”

Pernyataan mengancam tapi ditelingaku seperti pernyataan pemberian previliged.
Aku tersenyum, meski tak ingat complete seluruh kriteria bipolar.
Alhamdulillah, sungguh indah rencana Allah. Ekspektasiku lulus saja sudah syukur, ternyata dikasih tawaran nilai 8.

Dan selesai.

” Baiklah Millaty, ujian selesai, silahkan keluar”
Takzim ku ucapkan terima kasih dan mencium tangan dokter penguji. Si pasien yang sepertinya memang bukan Schizoprenia, mengikuti gayaku menyalami dokter itu.

Keluarlah kami dengan wajah sumringah. Ya kami. Aku dan pasienku.
Ketika temanku bertanya
“Gimana fit?”
Pasienku kontan menyeletuk dengan wajah masih sumringah
” Sukses dok, dijanjikan nilai 8″
Aku tertegun. Pasienku turut bahagia.
Awalnya kupikir dia tersenyum hanya karena membayangkan ifumie dan teh botol yang kujanjikan ternyata lebih dari itu dia bahagia ujiannya sukses.
Tak kusangka.

***

Dengan lahap pasienku makan ifumie nya, aku duduk disampingnya. Dia yang memutuskan untuk makan dikedai makan saja.
” Kalau dibungkus dan dibawa ke bangsal nanti dimintai teman-teman, dok” ujarnya polos ketika aku tawarkan untuk dibungkus saja.

Tiga suap terakhir dia berhenti menyendok, menatapku.
“Dok, Bunga lupa tawari dokter makan, dokter gak makan?” tanyanya lagi polos.
Aku tertawa.
” Melihat Bunga makan dokter udah kenyang kok”
Dia pun tertawa. Betul, mungkin bukan schizoprenia, kalaupun schizoprenia dia harusya sudah bisa dibawa pulang. Lihat ketawanya. Nyaris seperti ketawaku. Selisih di mood saja. Moodku dalam rentang normal. Sedangkan ia dalam mood sedih karena tak kunjung dijemput keluarga.

Selesai makan ia langsung bergerak ” Ayo dokter kita ke ruangan”
“Ayo” sahutku.

Di perjalanan ke bangsal tiba-tiba dia berkata ” Dokter, bunga mau mukena dokter, untuk sholat”
Aku tertegun.
Terharu.
Mungkin dia tidak tahu hukum sholat untuknya. -jika saja dia g*la-
“Dokter kasih jilbab aja besok ya, dokter titip ke kawan dokter yang dinas di sini ya, soalnya mulai.besok dokter gak dinas disini lagi”
“Ya dokter, terima kasih dokter”
“Sama-sama Bunga”
Dia manatapku dengan berkaca-kaca
“Sukses selalu buat dokter”
“Terimakasih Bunga”
Aku menjabat tangannya. Haru.
***

* Nama pasien bukan nama sebenarnya.

RSJD Prov SU,
akhir stase jiwa..

4 thoughts on “-Sabtu Ini- (1)

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s