Inspirasi Qur’ani di Pelosok Papua

T_T

BidukKata

Subhanallah, di salah satu sudut Papua ternyata merekah bunga pengabdian seorang dokter akhwat. Beliau adalah salah satu dari 23 muslim yang ada di balik gunung nun disana, dan satu-satunya muslimah dari yang sedikit itu.

Saya mengenalnya beberapa tahun. Pada pertemuan pertama ini saya sudah “ngiber” (ngiri berat) dengan hafalan si kakak yang lancar dan banyak. Dan hari ini saya semakin ngiri sekaligus merinding, ketika tau perjuangan kakak tsb utk terus menghafal di ujung Papua sana bertemankan senter saja, tanpa adanya listrik. Luar biasa, terakhir yang saya tau, hafalan beliau sudah sampi 12 juz, atau mungkin lebih saat ini (saya yakin).

Saudaraku, seharusnya kita malu.. Atau jika ada kata di atas malu, nah itulah dia!
Dengan waktu luang yang banyak, listrik yang nyala terus, terang terus, akses informasi yang berserakan, juga makanan pokok yang lengkap dengan segala hiasannya, kita seharusnya  bisa lebih dari beliau, atau paling tidak sejajar.

Beliau disana tanpa…

View original post 140 more words

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s