DIAM

RESEPSENYUM

Dan benar, diam membawa pertanyaan-pertanyaan- yang mengambang jauh terbawa arus ketika berlalu lalang saat bergerak. Diam, memberikan waktu bagi pertanyaan untuk datang bertandang demi sebuah jawaban yang diberikan atau (walau) hanya jawaban yang dipertimbangkan.

Selasa pagi kemaren, ketika aroma pagi masih tercium segar, saya menunggu hasil fotokopian beberapa berkas. Sembari menunggu, fotokopian yang kebetulan terletak di depan jalan raya, membuat saya dapat memperhatikan lalu lalang orang-orang di perempatan. Berkendara laju atau hanya berjalan agak cepat. Ada yang sendiri, ada yang berdua, bahkan ada yang berkelompok di dalam angkot dam minibus. Begitu ramai dan sibuk.

Saya membathin “Ternyata, begini aku dihari lainnya, pergi pagi-pagi, berjalan cepat. Ah (terlihat) sibuk. Tetiba, sebuah pertanyaan timbul di pikiran saya “Apa sebenarnya yang “saya dan orang-orang” ini cari di setiap pagi, di setiap hari, di sepanjang tahun berganti ?”.
Jleb. Sebuah perasaan menyelusup di hati saya, berasa ngilu. Dan beberapa saat setelahnya, saya bergidik, ketika…

View original post 289 more words

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s