Kilas Balik Siklus Bawah Part 2

Yuk lanjut lagi cerita-ceritanya, tentang duniia koass yang penuh warna warni🙂

3. Stase Kardiologi

Lepas dari stase penyakit dalam kami seperti mendapat kekebalan auto. Bak kata orang, racun yang tidak membuatmu mati akan membuatmu kuat😀. Jadinya seperti punya shield memasuki stase berikutnya, dan stase berikutnya adalah kardiologi atau jantung. Malam sebelum posting, kami sudah diingatkan minggu atas untuk menyiapkan alat perang tambahan yaitu Textbook wajib pegangan kardiologi yang notabene in English dan sebuah papan ujian. What? iya, papan ujian, yang belakangnya dilukis gambar jantung beserta keterangan bagian penting jantung. Jangan anggap remeh karena sanksi kalo gak bawa kabarnya berat, yaitu,,,tambah jaga malam🙂.Nice :p. Jadilah kami terbirit-birit berusaha mencari pinjaman. Saya karena gak dapat akhirnya memutuskan untuk beli papan ujian keesokan harinya trus dengan secukupnya menggambar organ penting tersebut meski lebih tepat dibilang sketsa pas-pasan jantung, yang penting kan jelas ntar kalo ditanya residen nya, ” kalo meletakkan stetoskop, ingin dengar S1. S2 harus letakkan dimana?” Ok fine, gambar katup nya jelas kok😀. Dan dimulailah hari-haru kami di stase kardio yang dipenuhi dengan isu sidak peralatan perang coass  oleh salah seorang residen senior, efeknya ya itu, kemana-mana kami harus ngalungin stetoskop Litman, ngantongi penlight, megangin papan ujian bergambar jantung.Kebanyakan koass saking takutnya jadi gak berani kemana-mana, takut jumpa sang residen senior sih katanya, but however Alhamdulillah kami aman-aman saja.

Tempat nongkrong favorit kami adalah bawah tangga, soalnya kami gak bolej]h masuk kamar jaga sebebasnya di jam wajib hadir, ruangan pertemuan juga keseringan dipake residen jadilah kami beronggok-onggok manis sambil baca buku english panduan di bawah tangga. Stase ini lamanya 4 minggu, Minggu 1 dan 2 dihabiskan diruangan, sama dengan stase penyakit dalam, kami harus menguasai pasien soalnya bakalan ditanya kalau visit terutama visit Prof. Di stase inilah kami diajari at least dipertunjukkan cara resusitasi jantung yang benar, bagaimana memposisikan tangan, sudut tubuh terhadap tangan dan pergerakan tubuh yang benar. dan hasilnya memang luar biasa, banyak pasien yang detak jantungnya balik lagi setelah di resusitasi, dan hebatnya lagi bahkan perawat kardiopun sangat sigap melakukan resusitasi.

Minggu 3 dihabiskan dengan belajar di ruangan echo, ruangan kateterisasi jantung dan CVCU. Diruangan CVCU kami melihat dan belajar banyak hal. Jadi tau bagaimana cara menggunakan alat DC Shock yang benar, saking excited nya kami sering tuh niru-niru yang dibilang Shocker nya sebelum ngeshock ” I clear, You clear, everybody clear?’ kompak semua jawab “clear!!!”. Yang berkesan lainnya adalah pas jagain pasien Ventriket Takikardia. Pernah kawan saya cerita tangannya merah-merah karna harus “ngetamp” pasien nya itu. Iya ini semacam memukul dada pasien biar irama jantungnya normal kembali, Di ruangan Echo yang minimalis ukurannya, kami juga bisa liat gimana sih gambaran monitor pasien-pasien dengan kelainan katup atau kelainan bawaan lahir lainnya sembari merhatiin pasien-pasien yang punya kelainan terebut cenderung punya postur tubuh yang spesifik, Sedangkan diruangan kateterisasi jantung, pertama kalinya kami masuk keruangan ber X-Ray, jadi kami diharuskan menggunakan pelindung khusus yang  menutupi leher sampai lutut. Demi keamanan beratt apalagi kalo salah milih ukuran, makin besar ya makin berat,Tampilannya keren sih, sampai2 rata-rata semua koass pasti punya fotto pake kostum ini. :p Nah ngapain aja didalam ruangan kateteerisasi? Ya as always kami jadi pemerhati yang baik🙂 Berdiri dengan manisnya ngeliat gimana kateternya masuk ke cabang-cabang arteri koroner, at least jadi tau anatomi jelasnya sang arteri jantung ini.

Begitulah, kami menjalani 4 minggu stase kardio dengan excited. Karena kardio itu special. haha, What so special about cardiologist department? bangsalnya bersih, perawatnya sigap, residennya cerdas dan religius, supervisornya juga oke banget, ilmunya juga semacam fisika kedokteran,”pahami fisilogisnya dan kau akan paham patofisiologi penyakitnya hingga kau bisa terapi dengan tepat”  Ryte, hampir semua bisa dilogikakan, jadi gak perlu hafal mati🙂

283681_496196013728462_550406673_n

Foto bareng minggu atas yang baik hati @ bangsal kedua terbersih RSHAM🙂

5. Stase Paru

Masuklah kami ke stase yang sangat khas dengan sistem Ngecor nya disiklus bawah, Ngecor apaan? bangun rumah? haha, bukan, ini istilah untuk jaga malam + jaga siang. Semacam pindah rumah ke rumah sakkit begitulah kira-kira😀 Selama 4 minggu kami disibukkan dengan tugas nebule pasien. Nebule itu adalah pemberian obat inhaler berkala, biasanya isinya kortikosteroid ditambah dengan bronkodilator. Mungkin pernah liat orang make sungkup yang berasap nah itu dia nebulizer. Disini juga angka infeksi paling tinggi sepertinya, banyak juga koass yang kena batuk disini alhasil harus make masker kemana-mana, kalo ditanya kenapa make masker ya harus bilang kalo saya sakit dan saya tidak ingin menularkan penyakit saya pada orang lain terutama pasien. Mulia ya. Hehe, memang harus begitu katanya. Hal penting lainnya adalah membaca foto rontgen, disini kami belajar cara menilai foto layak baca atau tidak, teknik membaca foto yang baik dan membuat kesimpulan foto. Menjadi penting dikuasai karena infeksi saluran –pernapasan menempati urutan teratas penyakit infeksi di Indonesia apalagi TB kan ya. Wah, jadi anecdotenya katanya gini,”kalo kamu gak bisa diagnose atau terapi Tb mending tutup aja prakteknya “

Oya, yang paling berkesan juga adalah Morning reportnya. Morning report dihadiri oleh hampir seluruh supervisor, semua menyampaikan pendapat mereka tentang kasus yang dibahas. Saya senang sekali kalau sudah begini, kita bisa nampung ilmu gratis dari pelbagai sumber. Apa lagi yang special? kasus yang disampaikan dalam bahasa inggris oleh koass minggu 3. Alahay, jadilah minggu 3 minggu yang paling ditakuti coass, betapa tidak, lidah harus diset western dikit biar bisa lancer baca dan harus ngerti pasien nya, soalnya presenter akan jadi sasaran pertanyaan. Gak bisa jawab? Ya gak papa, dibantu residennya kok, palingan malu dikit, namanya juga belajar kan😀

304879_455674164464399_936701103_n (1)

Foto rame-rame after Morning Report, We cant resist camera, really😀

Distase ini kami juga diberi kesempatan melihat langsung bronkoskopi yaitu memasukkan alat yang dilengkapi kamera ke dalam bronkus untuk kepentingan diagnostic ataupun pengobatan. Cool!!

6. Stase anak

Stase anak adalah stase yang 11 12 dengan stase penyakit dalam. Imbang-imbang lah seremnya. Betapa tidak, selain SKS nya yang banyak, jumlah minggunya juga hampir mendekati stase penyakit dalam. Kami menghabiskan 8 minggu distase ini. Tak selama di penyakit dalam memang tapi capeknya melebihi, haha. Why?? KErjanya banyak. Ngapain aja? Ya semcacam merangkap jado dokter dan perawat dalam satu waktu, hehe, Iya bener. Di stase ini kami disibukkan dengan tugas masang-masang infuse, ganti-ganti cairan infuse dengan transfusi darah, premed (suntikan obat sebelum transfuse darah) sampe-sampe ganti popok :p. Jadi di stase ini minggu 1-4 kami menjadi petugas ruangan, dibagi lagi 2 minggu di bagian infeksi dan 2 minggu berikutnya di bagian non infeksi. Seperti departemen sebelumnya, tugas ruangan adalah tugas penguasan pasien, meliputi rekam medic dan teori tentang penyakitnya. Di bagian infeksi tugas tambahan kami cenderung tidak begitu heboh, palingan nebule (kayak di paru) atau ngecek temperature pasien yang demam. Nah nah bagian non infeksi adalah bagian yang paling sibuk, karena pasiennya banyak dan banyak kebutuhan, ada yang transfuse darah (biasanya adek-adek yang kena Thalasemia) atau masuk obat kemo (Adek-adek leukemia) jadi tugas tambahan kami ya menyiapkan segala sesutau terkait transfuse darah dan obat kemo. Sistem jaga di stase anak juga bikin kami harus berdamai dan sering-sering bilang goodbye sama tempat tidur di kamar.

Di minggu ke 5 kami bertugas di bagian perinatologi, sebuah ruangan tempat perawatan neonates (anak<28 hari), ruangannya besar dibagi menjadi 3 level , level 1,2 dan 3. Masing-masing level beda-beda permasalahannya, biasnya level 1 adalah level paling butuh perhatian khusus, berikut level 2 dan 3. Apa yang special disini? Kami harus jagain dedek-dedek kecil ini, gantiin popok, puk-puk in kalo ada yang nangis, mastiin suhu box nya pas, ngitung-ngitung kebutuhan cairan dsb

2012-09-17 17.02.47

Foto pasien kesayangan kami  :*

Di minggu 6 kami bertugas di PICU  dan PGD . Di PICU kami berkutat dengan tugas ruangan intensif, ya memantau vital sign pasien, ngecek Hb sahli, dipstick urin, dsb. Di PGD kami membantu residen menerima pasien baru, seperti biasa tugas kami berkisar antara vital sign, dengar-dengar, periksa-periksa, sorong foto dan sorong ke ruangan J Bantuin perawat, gitu sih katanya. Baiklah.

Minggu 7-8 adalah minggu poli, dibagi lagi menjadi poli sehat dan poli sakit. Haha, ada ya poli sehat, kalo sehat ngapain berobat. Nah, jadi di poli sehat kami menangani pasien yang mau vaksinasi atau yang mau konsul mengenai perkembangan bayi nya. Dsini tu kami kenal Skala/table denveirr, semcam skala yang mematok umur dan perkembangan seorang anak. Di poli ini lah kami diberi tugas melakukan penyuluhan yang dibuat di atas stirofoam. Waktu itu tema saya adalah konstipasi.  Nah kalau di poli sakit ya kayak poli-poli lainnya, kerjaan kami membantu residen menangani pasien anak yang sakit dan berobat ke poli. Biasanya kami disuruh melakukan antropometri pada anak dan plotting ke table atau grafik yang ada, sehingga bisa dinilai tumbuh kembang anak nya. Begitulah, di minggu 8 posttest yang kata-katanya ngeri menghantui kami, kok ngeri? Karna banyak hafalan, Yup, bagian anak adalah yang paling banyak mengharuskan hafalan, konon kabarnya bahkan waktu ujian ditanya ingredients untuk bubur susu, bubur tim dsb, (berasa mamak mamak ya) haha, nice, bahkan yang agym ktanya ada yang ditanya berapa berat 1 lembar sayur bayam. Haha apa iya anak se njelimet itu ya. Dan akhirnya saya berhasil melalui posttest dengan sukses setelah mendapat tambahan tugas :p. Hehe at least nambah ilmu ya.

486857_4117160361710_1325022953_n

 Foto session setelah penyukuhan🙂

Hmm,,Apa yang special di stase anak? Pasien-pasien nya jadi dua orang, ya iya lah, anak plus orang tuanya dan kami harus bisa menangani keluhan keduanya. Cool!! Selain itu stase anak menyuguhkan sensasi berbeda dengan buku hijau yang menjadi nyawa kami selama di anak. Terdiri dari halaman-halaman absensi visit, jaga, dan modul beserta halaman-halaman kosong untuk nulis status di tiap bagian. Jangan main-main deh perihal nih buku, dijaga baik-baik, kalo ilang ya bisa ilang kesadaran juga dibuatnya😀. Betapa tidak, remedial konsekuensinya, ngulang gara-gara buku ngilang gak keren kan ya,,hehe. Nah disini juga ada istilah Modul. Ini semacam bimbingan rutin dari residen masing0-masing bagian. Banyak ilmu praktis yang kami dapat dari modul, meski ada juga beberapa modul yang agak-agak kalem, membiarkan kami duduk manis diam selama 2 jam. Haha, tak apalah, itung-itung refreshing. Apa lagi ya, Oya, suasana ruangan perinatologi juga memberi kesan tersendiri di hati kami apalagi yang perempuan. Ceiilee, iya lah. Bagaimana tidak, sosok-sosok tubuh kecil yang bahkan belum bisa ngeluarin suara tergolek lemah di kotak-kotak penghangat, tak berdaya. Kasian kan, gak tega ;(. Hmm, bagian yang asyik dan menanttang nya juga ada, pas ganti popok apalagi yg gak punya adek atau belum punya anak, jadi pengalaman pertama tu kan, hehe.

Saya juga menarik kesimpulan bahwa seorang dokter spesialis anak itu mmg hebat. Why? Ya seperti yang saya bilang tadi, pasien terdaftar nya 1 memang, tapi kenyataan nya kita harus nangani dua keluhan, keluhan anak dan orang tua. Selain itu, psikologi nya juga harus bagus, hmm, maksudnya ya semacam bisa menempatkan sesuatu sesuai tempatnya, uhmm, maksud nya gak main perasaan dimana-mana, gak emosional. Aduhh gimana ya bilang nya. Contohnya gini, saya tipikal yang gak tegaan, kalo dedek nya nagis waktu di nebul, saya mending berenti aja, padahal namanya juga bayi kan, diapa-ain juga nangis. Padahal nebul tu kan obatnya. Nah berarti saya belum cocok tu jadi dokter anak. Begitulah. Trus juga seorang dokter anak keknya harus mengerti bahasa kalbu ya, kan anak-anak seringnya gak bisa nyeritain keluhannya, mending kalo orang tuanya tau, kalo gak kan berabe. Jadinya dokter anak memang harus lebih peka ya.

***

What’s Next?? 

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s