Internship

Hallllooo bloggg…Lonng time no seeeee

How is life thereeeeee?

Sebelumnya, perkenankan saya meminta maaf atas janji yang tak terpenuhi, cerita koass yang gantung di stase bawah sampai hari ini belum terlunasi juga. Huaaa. Agak-agak gimana gitu juga kalo nulis nya sekarang ya kan. Kebenarannya diragukan tuh, apalagi saya bukan tidak sulit dilabel pelupaaa,,haha. Benar juga kata orang, minum kopi selagi hangat. Kalau dah dingin kurang rasanya. Perihal menulis lebih kurang sama sepertinya. Saya serasa kehilangan selera menulis cerita koass hari ini. Haha berasa masa itu “once upon a time bangeett”. Dah jauuuuh . Tapi tapi…menghangatkan kembali kopi juga gak masalah kan ya, kelak di suatu hari baik nanti, saya insya allah akan ulangi lagi cerita lama kita, Yang sabar yaaa

😉

Kali ini kita mulai babak baru, tertanggal 7 Oktober 2014 status saya udah ganti nih ceritanya, single becoming…? No no no, kalau yang itu not yet, wkwk, Status Dokter muda saya udah ganti sodarah-sodarah, jadi dokter ya? Belum belum, masih ada embel embel dibelakangnya, Yap, Meet me Millaty Fitrah, Internship Doctor. Bismillah.

***

Setelah pengumuman kelulusan UKDI, hingar binger wisuda, kembalilah saya ke habitat semula, Payakumbuh city. Ngapain neng? Ya as always as usual, perasaan homey selalu memanjakan saya ke tingkat tertinggi, mengubah level kesadaran harian anak rantau (yang biasanya selalu compos mentis), mengubah jam nocturnal, dan berefek menimbulkan keriuhan di rumah. Why? Dikala teman-teman rekan sejawat saya sudah bisa beli gadget terbaru dengan gaji jaga klinik mereka, saya masih istiqomah dengan jaga rumah sendiri. Haha. Iya bener. Perkaranya, bukan tawaran yang gak ada (ceile) Begitulah hidup ini pilihan cuuy, kata orang. Sok oke ya  nolak tawaran kerja gitu, haha, permintaan orang tua ternyata di atas segalanya. Dan hidup harus memlilih, Orang tua saya plus kakak adek minta saya dirumah. Jadi dokter pribadi atau dokter keluarga gitu? Unfortunately no, karena sebagian besar waktu saya habiskan dengan memegang sapu dan bergulat dengan pakaian-pakaian, hanya sesekali diminta menggunakan stetoskop, di kala Mama tiba-tiba hoyong. Begitulah singkat cerita saya menghabiskan bulan Mei Juni Juli Agustus September dengan rutinitas rumah tangga (uhuk) dan saya menikmatinya. Telponan dengan teman-teman yang memutuskan bernasib sama, mereka mengeluh bosan, nah saya nya? Saya malah takut terlanjur menikmati kebosanan ini.

Berada di rumah dikala itu bukannya tanpa beban, kami lulusan dokter tahun 2014 dihebohkan dengan banyaknya prosedur yang harus dilalui untuk pengurusan Internship. Gimana gak heboh, UKDI yang kami lalui dengan penuh perjuangan ternyata gak dianggap oleh salah satu institusi ikatan dokter di Indonesia.  Solusinya mereka memberikan ujian tambahan yang mereka sebut treatment. Sekali lagi treatment. Kalo istilah di kedokteran sehari-hari treatment itu artinya pengobatan . Nah dari istilahnya aja udah bikin ngeri, serasa kami adalah disease or patient yang butuh treatment untuk kesembuhan. Tapi kami yang sudah terlanjur pengen mengakhiri semuanya, walau dengan rasa nano-nano di dada akhirnya ngikutin juga tuh treatment. Alhamdulillah kami lulus semua. Halang rintang ternyata gak sampai disitu, untuk pengurusan Internship kami juga harus ngurus sertifikat kompetensi sebagai syarat Surat Tanda Registrasi dan kami di kasih deadline yang terbilang mepet. Syukurlah angkatan kami kompak dan punya banyak otak-otak kreatif inisiatif sehingga Alhamdulillah urusan kami dipermudah dan selesai pada waktunya. Dikirimlah sertifikat kompetensi dan surat tanda resgistrasi ke rumah masing-masing yang menandakan sebentar lagi kami akan memulai hidup baru sebagai…jreng jreng jreng Dokter Internship.

***

Hari yang paling menegangkan tiba, hari pemilihan wahana. Sehari sebelum pemilihan wahana, saya dan 3 orang teman dari provinsi Sumbar (let me introduce my dear friends, Harry, Siska and Suci) sudah ancang-ancang untuk milih daerah mana yang akan dipilih, Malam nya kami musyawarah dan ,daerah yang masuk kandidat adalah Padang Panjang, Pariaman, Payakumbuh dan Sawahlunto. Padang panjang dan Pariaman akhirnya dicoret karena terlalu banyak pesaing, konon kabarnya dua daerah ini paling banyak fans nya karena paling dekat dengan Padang. Payakumbuh dicoret karena saya yang mencoretnya. Haha, why? Saya takut sifat homey saya muncul lagi kalau di Payakumbuh, gimana mau jadi dokter tuh kan kalo manja manja gitu, wkwk. Akhirnya Sawahlunto terpilih menjadi wahana pilihan kami. Malam itu kami tukar tukaran akun dan password, just get prepared seandainya jaringan bermasalah, teman lain bisa masuk ke akun dan memilihkan wahananya. Jam 00.00 kami semua sudah ready di depan gadget masing-masing, tetiba dari grup angkatan diinfokan bahwa pemilihan wahana di tunda sampai besok pagi. Tidurlah saya dengan hati yang terjaga, halah.

Akhirnya pagi yang ditunggu tiba juga, mulai lah kami sibuk tak bisa diganggu di depan laptop pasca Subuh. Berkali-kali dicoba jaringan crash. And Im not the only one, teman-teman lainnya rata-rata juga mengalami hal yang sama. Panic? Iya, karena (katanya) kami berlomba dengan waktu dan yang paling ditakutkan adalah terlempar ke negeri antah berantah karena kalah cepat memlilih. Sekitar jam 07.30 Suci, yang kebetulan sedang berada di Jakarta menginfokan kalau dia berhasil masuk akun dan udah milih wahana, Alhamdulillah,  akhirnya kami meminta bantuan Suci untuk masuk ke akun dan memilih wahana Sawahlunto dan resmilah sudah kami b4 terdaftar di wahana Sawahlunto. Tak lama kemudian seorang teman saya, anak USU juga, asal Medan ngechat via wassap nanyain pertanyaan yang ambigu antara nanyain posisi kala itu atau pilihan wahana. saya jawab Payakumbuh awalnya. Pas dia bilang mau ikut internship disana juga saya kontan nelp langsungg no no no. Saya milih Sawahlunto cinttttooooo. Please meet her, Uchti. Berselang waktu Harry juga dapat telp dari teman satu coassnya, asal Jambi, yang dulunya pas kuliah meski gak akrab tapi punya cerita lama juga dengan saya, Her name Angie, enji for short.

And finally, here we are the Six in sawahlunto city, the Little Dutch, as Internship Doctor.

The Six -minus Suci- bersama pembimbing pembekalan Internship

The Six -minus Suci- bersama pembimbing pembekalan Internship

The Six -minus Harry- latar belakang Danau Maninjau :)

The Six -minus Harry- latar belakang Danau Maninjau🙂

-to be continued

Wanna say something?? Tafadhdhol :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s